Asal Usul Desa PERLANG

Pada jaman dahulu desa Perlang menurut dari beberapa penuturan cerita turun temurun generasi ke-4 dan ke-5 awalnya berasal dari kampung TUA TUNU yang berada sekarang di daerah Kota Madya Pangkal Pinang. Kalau diperhatikan dan didengarkan penuturan bahasanya maka dialeknya sama dengan Masyarakat kampung Tua Tunu, Selindung Baru, Batu Rusa, Balun Ijuk dan sebagian Masyarakat di Pangkal Pinang.

              Awal ihwal berpindahnya masyarakat Tua Tunu generasi pertama yang mendiami desa Perlang ini, ada kaitannya dengan Perlawanan dan perjuangan. pahlawan kita yaitu Depati Amir pada Tahun kurang lebih 1891 sampai 1902. Kampung Tua Tunu adalah satu akibat yang harus di tanggung bersama dalam melawan dan menentang penjajah kolonial Belanda, yang akan menjajah pulau Bangka tercinta, sebab perang yang terjadi karena Kesultanan Darussallam  Palembang sudah tidak bisa lagi membantu Bangka disebabkan oleh kalah perang terhadap Belanda. Maka Bangka harus berjuang sendiri dalam mempertahankan daerahnya.

              Kampung Tua Tunu lama yang paling ujung atau kampung pertama dibakar Belanda hingga habis terbakar sebagian (menurut orang-orang tua sebenarnya yang membakar kampung itu adalah bangsa Indonesia yang manjadi pasukan Belanda) sebab pembakaran itu kampung itu adalah Belanda kesal terhadap masyarakat Tua Tunu yang selalu tutup mulut, membantu dan melindungi Depati Amir serta Pasukannya, baik secara tenaga maupun bahan makanan serta tidak mau menunjukan dimana Depati Amir berada, akibat kekesalan itu Belanda lalu mambakar kampung Tua Tunu.

              Masyarakat kampug Tua Tunu setelah mendapat musibah tersebut banyak yang melarikan diri kehutan-hutan dan ada yang langsung pindah kekampung lain sehingga tidak kembali lagi, salah satunya adalah keturunan dari Masyarakat Perlang, cerita awal setelah pembakaran kampung Tua Tunu, beberapa keluarga terdiri dari belasan orang tua dan muda (jumlah tidak jelas) berimigrasi kearah selatan dengan tujuan mencari keselamatan jiwa keluarga serta mencari penghidupan yang baru, yaitu berladang. Diketahui selama perlawanan Amir rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir terhadap Belanda telah membuat masyarakat Bangka umumnya selalu dihantui rasa was-was untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari takut terjadi apa-apa terhadap keluarga mereka disamping susah bercocok tanam.

              Kembali kecerita belasan orang dari kampung Tua Tunu yang pergi kearah selatan, setelah beberapa seminggu (diperkirakan 4 minggu) menyusuri pantai Bangka arah keselatan, mulai dari Pangkal Pinang terus sampai ke Kurau lalu menyeberang sungai karena tanah tidak cocok untuk berladang lalu pindah lagi ke Penyak, Guntung, Arung Dalam dan terakhir istirahat agak lama di Koba, tetapi di Koba pun sama, tanah kurang subur dan masyarakatnya sudah banyak serta adat istiadat yang berbeda. Lalu rombongan berjalan terus setelah ijin dan pamit kepada Demang Koba, juga saran dari Demang supaya mereka kearah selatan karena disana masih ada hutan rimba yang belum dijamah olah masyarakat, perjalanan menyusuri pantai hingga sampailah pada suatu tempat dipinggir pantai, dimana mereka melihat ada daerah yang agak tinggi lalu mereka ketempat itu (daerah dekat Perlang) setelah mereka bersetuju maka tinggallah mereka disana langsung membuka ladang sambil pergi melaut, tempat tinggal mereka ini dinamakan RIMBA GUNTUNG artinya hutan yang menggantung (kalau dari Desa sekarang kurang lebih 4 pal atau sama dengan 2,5 Km). Berimba guntung para pemukim ini hidup menetap kurang lebih dari 2 Tahun dengan aman, tenang serta damai.

Masa Sedih

Setelah bermukim pada suatu ketika dari salah satu keluarga pemukim itu mengalami musibah, yaitu ada anak kecil yang meninggal dunia (tidak diketahui oleh narasumber yang meninggal anak laki-laki atau anak perempuan). Akibat meninggalnya salah satu anggota keluarga tersebut, seluruh pemukim mengalami kesedihan yang berpanjangan, menyebabkan adanya keinginan pemukim untuk pindah tempat (rumah) lebih kearah darat atau gunung.

Asal Usul Nama Perlang.

Akibat meninggalnya anak kecil tersebut maka masyarakat pemukim sepakat untuk segera pindah kearah lebih kedarat atau gunung, setelah sepakat serta hari yang ditentukan mulailah berangkat sekelompok kecil mencari daerah yang baru untuk tempat tinggal dan berladang, perjalanan pencarian tempat baru itu dimulai dari tempat mereka bermukim yaitu rimba guntung dengan menyusuri arah sungai kearah hulu dengan tujuan menghadap kegunung (bukit) hingga beberapa kali ulang sambil merintis jalan baru.

Setelah berjalan lama dan berulang bebera kali menyusuri sungai lalu sampailah mereka pada ujung sungai yang menyempit (sekarang kira-kira berada dijembatan sungai dikampung payak), setelah dilihat, dicek dan dirasa tanah dan tempatnya cocok lalu bersepakat dan bersetujulah mereka untuk tinggal dan menetap serta berladang disini (daerahnya agak menurun).

Sehabis mendirikan pondok dan ladang, masing-masing dari mereka beramai-ramai bergotong royong membuat jalan dari arah atas ke sungai, pada saat membuat jalan dari arah sungai mereka dikejutkan oleh ada seekor elang sedang mencari ikan di sungai sambil menghentak-hentakkan sayapnya di air (bahasa kampungnya ngeper-ngeper) lalu mereka sepakat untuk menyebut daerah ini dengan nama per-per lang atau Perlang.

Asal Mula Berdirinya Masjid

Karena kebutuhan akan ibadah yang lebih baik terutama hari jumat dan acara kegiatan lainnya maka bergotong-royonglah masyarakat secara kompak, ada yang menyumbang uang, kayu, genting sampai tenaga sepenuhnya, bersama-sama membangun dan membuat masjid yang didambakan, awalnya berdirinya masjid bentuknya adalah seperti rumah panggung, bahannya dari kayu balokan yang dibuat papan, yang dikerjakan secara bertahap bersama sampai selesai.

Lalu beberapa puluh tahun kemudian kurang lebih tahun 1937 karena masyarakat diberi keluasan rezki oleh Allah SWT terutama hasil karet dan ladanya, serta jumlah masyarakat (jamaah) yang semakin banyak maka atas usul bersama mereka mufakat serta sepakat untuk membenahi dan memperbaiki bangunan tersebut bentuknya setengah permanen dimana lantai di tanah dan bahan bangunan dari papan juga secara gotong royong.

Selanjutnya belasan tahun kemudian masjid itu dibuat secara permanen dengan menggunakan semen, pada bagian dalam masjid terdapat 4 pilar kayu yang menunjukkan bahwa keempat pilar itu saksi bisu cerita bagaimana masyarakat bekerja bersama-sama dengan gigih, bersemangat membangun masjid. Keempat pilar tersebut bukan sembarang kayu dan asalnya dari tiga tempat, dimana satu batang pilar dari daerah Meliye yang jaraknya sekitar 5 Km, dua batang pilar dari arah gunung yaitu daerah pengumbut yang jaraknya kurang lebih 3 Km dan satu batang lagi berasal dari daerah sadap. Cara memilih kayu pilar ini bukanlah sembarangan ,memang dipilih kayu yang keras dan kuat, yaitu kayu memaluh.

Awalnya cara pengangkutan kayu pilar itu adalah sangan berat yaitu diangkut secara bersama-sama dengan cara dipikul, setelah ditebang menurut para narasumber pengangkutan itu bukanlah mudah, waktu mereka mengangkut satu batang pilar memakan waktu dari nadi sadap saja dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 Sore sampai kekampung ini menunjukan betapa semangat kebersamaan dan beratnya pilar serta jauhnya daerah kayu pilar bukanlah suatu halangan untuk maju, walaupun hanya berbekal nasi satu sumpit dipinggang masing-masing, setelah selesai kayu pilar dikumpulkan maka mulailah perampungan masjid dikerjakan hingga terbentuk masjid sekarang ini (masjid yang Lama).

Kemendesa
Prov Babel
Pemkab Bangka Tengah